Potensi dan produksi mineral andalan Indonesia


mobil tambangMineral yang terdapat di Indonesia adalah emas, perak, tembaga, nickel, timah putih, timah hitam, aluminium, besi, manggan, kromit, minyakbumi, gasbumi, batubara, yodium, berbagai garam, berbagai mineral industri (asbes, bentonit, zeolit, belerang, fosfat, batugamping dan lain-lain), batumulia termasuk intan dan bahan bangunan. Mineral langka masih belum diketahui, sedangkan uranium masih belum mempunyai data yang rinci, akan tetapi uranium diperkirakan terdapat dalam batuan granit yang tersebar luas di Kalimantan bagian tengah dan Sumatera bagian barat.

Setidaknya terdapat 9 macam mineral Indonesia yang menjadi andalan yaitu timah, nickel, tembaga, bauksit, emas, perak, batubara, minyak dan gasbumi. Dari waktu ke waktu peranannya dalam ekonomi nasional berubah-ubah sesuai dengan perkembangan harga komoditi.

Timah 

Pada waktu yang lampau kontribusi timah bagi perekonomian nasional sangat besar. Namun akhir-akhir ini makin menurun oleh karena harga yang makin rendah. Penurunan harga timah sangat dipengaruhi oleh jumlah persediaan yang ada di pasaran (over supply). Upaya untuk memperbaiki harga timah terus-menerus dilakukan. Pada triwulan pertama tahun 2003 misalnya, telah terlihat tanda-tanda kenaikan harga timah.

Pada masa lampau harga timah dapat dikendalikan oleh Asosiasi Penghasil Timah (Association of Tin Producing Countries, ATPC), namun asosiasi ini tidak berfungsi lagi oleh karena banyak sekali timah yang berasal dari pertambangan liar yang marak di banyak negara penghasil timah. Sebelumnya, sebuah lembaga bernama Dewan Timah Internasional yang berkedudukan di London, telah pula berhasil mengendalikan harga timah, malahan membiayai pula riset di bidang pertimahan.

Pengendalian harga timah terutama berkaitan dengan pelepasan stock timah yang dikuasai Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, yang sangat mempengaruhi harga pasar. Menurut pandangan mereka, perang masa depan akan berubah sifatnya, maka oleh karena itu stock timah yang selama ini disimpannya dilepas ke pasaran. Akibatnya harga timah jatuh. Lembaga ini akhirnya juga tidak berfungsi, salah satu sebabnya adalah karena mahalnya biaya untuk menjalankan kegiatan Dewan tersebut. Sekarang harga timah lebih memprihatinkan. Malahan biaya produksi hampir-hampir tidak tertutup oleh pendapatan dari penjualan. Malaysia sudah lama menutup kegiatan tambangnya karena biaya produksinya yang mahal.

Di samping faktor-faktor yang dikemukakan di atas, banyak pula faktor lainnya. Penyebab utama yang paling menonjol adalah bahwa industri timah dianggap dewasa ini sebagai industri yang menuju petang hari (twilight industry). Proses ini hanya bisa dihindari bilamana ditemukan terobosan penggunaan timah. Sebagaimana diketahui, penggunaan timah mengalami kejayaannya ketika industri baja sedang berkembang. Demikian juga halnya ketika peperangan banyak menggunakan timah untuk membuat peluru.

Penggunaan timah lainnya adalah untuk bahan konduktor pada alat elektronik, berbagai pembungkus dan kemasan, kerajinan (pewter) dan campuran untuk pembuatan berbagai logam (alloy). Peperangan modern sudah tidak menggunakan banyak timah, sedangkan peralatan elektronik makin kecil ukurannya dan menggunakan chip yang tidak terlalu banyak memerlukan timah. Sementara itu industri makanan tidak mau lagi menggunakan kemasan timah karena unsur racun yang dikandung timah hitam (Pb) yang selalu melekat pada timah. Sampai sekarang upaya memisahkan Pb dari timah (Sn) belum sepenuhnya berhasil. Pasta gigi misalkan, tidak lagi menggunakan timah sebagaimana pada masa lampau dan diganti dengan bahan plastik. Demikian juga minuman dalam kaleng, sekarang berpindah ke aluminium. Pabrik lembaran timah (tin plate) yang sudah didirikan di Indonesia terpaksa menghentikan kegiatannya.

Produksi bijih timah Indonesia mencapai 40 sampai 50 ribu ton setiap tahun yang diekspor ke Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Negara yang disebut terakhir ini menyerap 40% dari seluruh ekspor timah Indonesia. Jumlah cadangan timah Indonesia diperkirakan 865 ribu ton atau cukup untuk 20 sampai 25 tahun yang akan datang. Sementara itu masih terdapat potensi lainnya yang jumlahnya lebih kurang 300 sampai 400 ribu ton. Dengan eksplorasi lanjutan, potensi ini diperkirakan masih akan terus meningkat.

Tembaga

Tembaga memegang peranan yang penting baik sekarang, maupun di masa yang akan datang. Penggunaan tembaga sebagai konduktor elektronik dalam bentuk kabel-kabel masih terus berkembang. Karena itu pertambangan tembaga di Indonesia seperti di Grasberg, Irian Jaya, Batuhijau di Sumbawa dan pertambangan lainnya di Sulawesi Utara masih terus dikembangkan. Cadangan yang sudah diketahui mencapai 18 juta ton, sedangkan produksi mencapai 1,5 sampai 1,6 juta ton, sehingga persediaannya cukup untuk 11 sampai 12 tahun. Sementara itu cadangan potensial lainnya yang belum diselidiki dengan rinci mencapai 12 juta ton, sehingga seluruh sumberdaya mencapai 30 juta ton.

Nickel

Cadangan nickel jumlahnya sangat besar yaitu mencapai 600 sampai 650 juta ton dalam bentuk bijih, diantaranya sejumlah 300 sampai 400 juta ton sudah diketahui dengan pasti. Produksi bijih nickel adalah sekitar 2,5 juta ton per tahun sehingga persediaan nickel masih cukup untuk 250 tahun lebih. Hampir seluruh produksi nickel Indonesia diekspor ke Jepang. Sebahagian kecil yaitu lebih kurang 1/6 nya, diolah di dalam negeri dan diekspor dalam bentuk ferronickel dan nickel matte berupa bahan baku setengah jadi. Produk ini juga hampir seluruhnya diekspor ke Jepang.

Nickel mempunyai prospek yang bagus oleh karena mineral ini sangat berguna dalam memuliakan berbagai logam seperti logam menjadi  logam yang antikarat, tahan panas dan tahan kecepatan tinggi. Nickel juga dipakai untuk pelapis peralatan. Alat-alat rumah tangga hampir seluruhnya memanfaatkan nickel untuk keindahan dan juga anti karat. Harga nickel relatif stabil, walaupun pernah mengalami anjlok akibat pelepasan persediaan nickel dari Rusia ketika negara itu pecah. Beberapa tahun sebelumnya, booming industri telah mendorong harga nickel pada tingkat yang sangat tinggi. Potensi nickel Indonesia termasuk dalam sekala nickel dunia.

Batubara

Mineral andalan yang semakin hari semakin penting adalah batubara. Dahulu batubara pernah mengalami zaman keemasan ketika James Watt menemukan mesin uap yang menggunakan batubara. Pada awal revolusi industri, batubara merupakan mineral yang sangat diperlukan sebagai bahan bakar industri dan juga sebagai bahan baku pembuatan alloy dan baja. Batubara kemudian dilupakan oleh karena terdesak oleh minyakbumi yang lebih mudah penanganannya, baik dari sudut pemakaian, pengangkutan maupun kebersihan. Sementara itu minyakbumi juga unggul untuk transportasi individual, seperti mobil, motor dan lain-lain yang tidak mungkin dilakukan oleh bahan bakar batubara. Malahan angkutan masal seperti kereta api pun berpindah ke bahan bakar minyakbumi.

Namun ketika minyakbumi dianggap penting untuk keperluan alat politik, maka harga minyakbumi menjadi sangat tidak stabil dan terkadang bisa sangat mahal. Sebaliknya batubara yang jumlahnya sangat banyak dan penyebarannya cukup luas, harganya relatif murah. Dengan penyebaran yang luas, maka ketergantungan kepada satu pihak bisa dikurangi.

Harga batubara juga relatif murah dibandingkan dengan minyakbumi. Untuk jumlah kalori yang sama, batubara lebih murah sekitar 8 kali dibandingkan dengan minyakbumi. Sebagai contoh 1 ton batubara berkualitas menengah untuk pembangkit listrik, setara dengan lebih kurang 8 barrel minyakbumi, sedangkan dalam keadaan normal harga 1 ton batubara lebih kurang sama dengan 1 barrel minyakbumi. Oleh karena itu industri batubara kemudian berkembang dengan pesat. Dalam 15 tahun terakhir produksi batubara Indonesia telah meningkat dari hanya beberapa puluh ribu ton saja menjadi antara 73 sampai 85 juta ton dan ini menempatkan Indonesia menjadi pengekspor batubara no. 3 terbesar di dunia.

Dengan proyeksi kebutuhan tenaga listrik yang secara konsisten meningkat 11-12% dan pada kenyataannya dapat mencapai 17%, maka kebutuhan batubara akan meningkat pula dengan tajam. Pada tahun 2003 produksi batubara Indonesia akan mencapai lebih kurang 109 sampai 110 juta ton yang sebahagian akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Minyak dan gasbumi

Minyak dan gasbumi tidak diragukan lagi merupakan mineral yang amat penting dalam perekonomian dunia maupun perekonomian nasional Indonesia. Pada masa yang lalu migas telah menyumbangakan sebanyak 74% kepada total APBN. Persediaan migas Indonesia masih cukup untuk 15 tahun yang akan datang. Perlu pula dicatat bahwa persediaan ini akan selalu bertambah jika diadakan eksplorasi baru, atau ditemukannya inovasi teknologi. Minyakbumi yang ada di dalam sumur sejauh ini baru mampu diangkat sekitar 20 sampai 40%. Karena itu dengan peningkatan teknologi, maka cadangan yang masih tersimpan di dalam bumi akan pula dapat dimanfaatkan, sehingga persediaan untuk 15 tahun diharapkan akan selalu bertahan.

Selain itu, minyak bumi pun dapat diproduksi dari batubara melalui proses liquefaction. Walaupun teknologinya sudah dikuasai, namun masih terlalu mahal untuk memproduksinya. Dengan cadangan batubara Indonesia yang jumlahnya sangat besar, maka sebenarnya tidaklah terlalu dikhawatirkan akan kekurangan sumber energi. Cadangan gasbumi yang cukup besar ditambah dengan penemuan baru, akan membuat Indonesia dapat mengulur waktu dalam menghindari saatnya Indonesia menjadi “net importer” migas.

Dipetik dari: “OTONOMI PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT – Panduan Praktis Bagi Manajer Sumberdaya Mineral Di Daerah, Prof. Dr. Ir. Adjat Sudradjat, M.Sc.,2007

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *