Survey Geofisika Metode Resistivitas 2-D untuk Mitigasi Bencana Longsor di Lintasan Kereta Api


Kelongsoran menjadi suatu masalah yang umum terjadi di daerah-daerah dengan kondisi geologi tertentu. Longsoran juga disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga kandungan air dan beban dalam lapisan tanah bertambah. Tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang disebabkan oleh proses kebumian (geologi) ataupun ulah tangan manusia, misalnya dengan penggundulan hutan, pembalakan liar dan lain sebagainya. Ketidaksiapan dalam menghadapi bencana, pecegahan dan mitigasi sehingga mengakibatkan jatuh korban baik jiwa maupun harta benda, kerusakan lingkungan hidup, sarana prasarana, fasilitas umum serta mengganggu tata kehidupan dan penghidupan masyarakat pada umumnya.

Gerakan tanah sering disebut sebagai longsoran massa tanah atau batuan dari tempat asalnya karena pengaruh gaya berat. Faktor internal yang dapat menyebabkan terjadi gerakan tanah adalah daya ikat tanah atau batuan yang lemah sehingga butiran tanah dan batuan dapat terlepas dari ikatannya. Pergerakan butiran ini dapat menyeret butiran lainnya yang ada disekitar sehingga membentuk massa yang lebih besar. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempercepat dan memicu terjadinya gerakan tanah diantaranya sudut kemiringan lereng, perubahan kelembaban tanah, dan tutupan lahan (Djauhari Noor, 2006)

Penanggulangan bencana akibat tanah longsor ini diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi dengan berbagai cara dan metode. Peran geologi sangat penting dalam proses perencanaan untuk mengurangi resiko bencana yang akan terjadi dan reaksi manusia terhadap bencana itu sendiri. Untuk itu perlu dilakukan idetifikasi terhadap kondisi dan struktur geologi bawah permukaan.

Maksud dilakukannya kegiatan ini adalah untuk melakukan survey geolistrik/ resistivitas 2-D yang memungkinkan untuk menduga kondisi geologi bawah permukaan dan bidang longsor di daerah survey dengan menggunakan metode resistivitas konfigurasi dipole-dipole.

Lintasan pengukuran sebaiknya di desain dengan memperhatikan kondisi geologi setempat sesuai dengan target penyelidikan (Gambar 1).

Hasil pengukuran dan pengolahan data yang berupa penampang resistivitas selanjutnya dapat diinterpretasikan untuk mendapatkan gambaran kondisi geologi bawah permukaan. Hasil analisis resistivitas dan interpretasi bawah permukaan maka lokasi-lokasi bidang gelincir yang merupakan bidang rawan longsor terletak pada kelompok resistivitas menengah dengan jenis pasir atau pasir lempungan yang menindih kelompok resistivitas tinggi yang berupa batulempung kompak ataupun lapukannya. Perkiraan bidang longsor yaitu daerah yang ditunjukan oleh anak panah merah pada penampang perspektif vertikal (Gambar 2).

Sebaran zona bidang longsor dapat dibuat setelah dianalisis dengan berbagai informasi geologi lainnya (Gambar 3).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *